Beranda Nasional Hukum - Kriminal Yayasan Pemulihan Natuna Indonesia Ultra Terindikasi Komersialisasi ?

Yayasan Pemulihan Natuna Indonesia Ultra Terindikasi Komersialisasi ?

Modusinvestigasi.com | Bandung – Yayasan Pemulihan Natuna Indonesia Ultra Jalan Sukamulya  Indah Sukagalih Sukajadi Kota Bandung dalam menjalankan system operasionalnya menangani perawatan pemulihan para korban pecandu dan pemakai Narkoba dan Napza diduga berbau komersil.

Sumber kepada Modus Investigasi mengatakan, pelayanan yang dilakukan Yayasan Ultra terhadap para korban Narkoba dan Napza (pasien/klien) ini dalam segala urusan harus berhubungan dengan uang.

Bentuk-bentuk persetujuan dan pernyataan yang ditandatangani pihak Keluarga pasien/klien dengan pihak Yayasan dikemas yang mengarah kepada pelayanan yang berbau uang.

Tidak jelas mekanisme yang dilakukan oleh Yayasan Ultra ini dengan hanya persetujuan keluarga pasien/klien diperbolehkan para pecandu Narkoba/Napza ini pulang dengan system yang dikemas dengan rawat jalan.

Persetujuan ini sama sekali tidak dilengkapi berita acara dan persetujuan dokter atau pihak medis apakah sipecandu atau pemakai Narkoba/Napza yang dijinkan berobat jalan ini sudah sesuai standarisasi medis atau belum.

Informasi yang dihimpun Modus Investigasi dari salah seorang sumber yang berhubungan langsung dengan Yayasan Ultra ini mengatakan, pasien/klien dijinkan pulang dengan system rawat jalan dengan tebusan uang yang awalnya ditetapkan Rp 20 juta, namun setelah terjadi negoisasi dan tawar menawar akhirnya menjadi Rp 13 juta, namun dalam kwitansi ditulis hanya Rp 10 juta, dengan alasan jangan sampai pihak penydik dari Kepolisian tahu angka yang sebenarnya.

Informasi ini, menimbulkan tanda tanya hubungan apa pihak penyidik dari Kepolisian dengan Yayasan Ultra ? dan aturan seperti apa mekanisme yang dinyatakan pihak Yayasan Ultra yang mengisyaratkan tidak perlu datang untuk berobat jalan ke Yayasan Ultra cukup dengan transfer uang profit sebesar Rp 250 ribu setiap minggu sesuai jadwal rawat jalan.

Sementara informasinya sejak Januari hingga Mei 2021 sudah 16 orang yang diproses pulang dan rawat jalan dari daerah Indramayu. Kepulangan para pasien/klien ini diduga keras di komersialisasikan dengan dana yang bervariatif rata-rata puluhan juta.

Pantauan Modus Investigasi dilokasi Yayasan Ultra Jalan Sukamulya Indah Sukagalih Sukajadi Kota Bandung, Senin (24/5/2021) ada 2 orang keluarga pasien/klien yang mengurungkan niatnya untuk bezuk atau menemui anggota keluarganya yang ditangani Yayasan Pemulihan ini karena tidak membawa uang.

Ketika Modus Investigasi kepada kedua Keluarga pasien/klien ini diminta keterangan ketika menuju arah pulang tidak jauh dari lokasi Yayasan Ultra mengatakan, mereka wajib menyerahkan uang kalau mau bezuk dengan berbagai macam cara yang diutarakan pihak Yayasan Ultra melalui Security, termasuk harus Swab Covid 19 yang juga berbayar sebesar Rp 250 ribu.

Dikatakan kalau tidak ada jaminan bahwa clean atau belum vaksin Covid 19 tidak boleh menemui pasien/klien.

Sistem yang diduga menjurus kea rah Komersialisasi di Yayasan Pemulihan Natuna Indonesia Ultra ini juga menimbulkan tanda tanya terhadap tugas pokok dan fungsi Yayasan yang menjadi badan hukum Ultra. Bukankah Yayasan ini seharusnya melakukan pelayanan kepada pasien/klien dengan mencari dana dari para donatur dan bantuan pemerintah dari instansi terkait ?

Pengurus Yayasan Pemulihan Natuna Indonesia Ultra, Ade yang didampingi Ule yang ditemui Modus Investgasi diruang kerjanya sama sekali tidak bisa memberikan penjelasan terhadap apa yang diklarifikasi Modus Invsetigasi.

Ade hanya mengatakan akan menelusuri kejadian dan informasi yang disampaikan Modus Investigasi, berbagai hal yang disampaikan wartawan sebagai koreksi yang menimbulkan tanda tanya dimasyarakat sama sekali tidak mampu dipahami Ade dan Ule, sehingga Modus Investigasi menawarkan penulisan sosialisasi atau advertorial dan iklan demi kemajuan Yayasan Pemulihan Natuna Indonesia Ultra juga tidak mampu dipahami, Ade dan Ule hanya mengatakan nanti dihubungi setelah kordinasi dengan pimpinan Yayasan.

Agaknya Ade dan Ule memahami, bila ada penulisan sosialisasi, advertorial ataupun iklan bahwa Mass Media akan dengan sendirinya media massa terus memantau kegiatan dan system operasional Yayasan ini. Modus Investigasi sedikit kaget ketika Ule menawarkan amplop dengan dalih uang bensin ketika pamit pulang. Modus Investigasi menolak dengan tegas amlop yang disodorkan Ule. * (HaN/Vhe/Sanita)

Tinggalkan Balasan