Beranda Nasional Potret Jawa Barat dalam Bingkai Masjid Al Jabbar Gedebage Bandung

Potret Jawa Barat dalam Bingkai Masjid Al Jabbar Gedebage Bandung

Masjid Raya Al Jabbar, di Jalan Cimincrang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat. (ANTARA)

BANDUNG (pelitaindo.news) – Salah satu identitas suatu wilayah, bisa dilihat dari keberadaan pembangunan infrastrukturnya yang megah, seperti keberadaan sebuah masjid.

Masjid seringkali dijadikan sebagai simbol maupun pusat peradaban manusia.

Sebagai tempat dan bangunan yang suci, masjid tentunya memiliki cerita sejarah dan nilai keindahan masing-masing.

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.

Badan Pusat Statistik mencatat hingga 2020 jumlah penduduk di Jawa Barat sebanyak 49,94 juta jiwa.

Dengan populasi umat muslim terbesar di Indonesia yakni 42,58 juta jiwa ini, ternyata, Jawa Barat belum memiliki bangunan Masjid Raya tingkat provinsi, yang representatif sebagai pusat kegiatan keagamaan dan dikelola langsung Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat periode 2008 hingga 2018 Ahmad Heryawan kemudian mencetuskan ide bahwa Jawa Barat harus memiliki sebuah bangunan masjid yang nantinya bakal menjadi ikon provinsi bahkan Indonesia.

Dari ide tersebut, Ahmad Heryawan berdiskusi dengan arsitek ternama di Tanah Air,Ridwan Kamil. yang juga merupakan Wali Kota Bandung saat itu.

Ridwan Kamil yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, diminta untuk mendesain masjid yang akan dibangun di Kawasan Gedebage, Kota Bandung.

Maka dicetuskan lah nama Masjid Raya Al Jabbar (MRAJ) di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, tepatnya di Jalan Cimincrang.

Kawasan Gedebage dipilih sebagai tempat pembangunan Mesjid Raya Jawa Barat karena merupakan kawasan yang direncanakan sebagai Central Business District (CBD) yang baru di masa depan.

Masjid ini berdiri megah di atas sebuah danau retensi dengan total lahan seluas 25,8170 hektare.

Ada empat sisi minaret yang menjulang tinggi dan taman lanskap yang luas mengelilingi danau dan kawasan masjid, yang pembebasan lahannya dilaksanakan sejak tahun 2015 hingga 2022.

Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2017 oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat pada waktu itu, yaitu Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar.

Gubernur Ridwan Kamil berkisah, pembangunan masjid Al Jabbar berawal pada 2016 lalu saat dirinya masih menjabat Wali Kota Bandung.

Dirinya saat itu memberikan usulan kepada Gubernur kala itu Ahmad Heryawan agar Jawa Barat memiliki masjid raya sendiri.

Ternyata selama ini kan Pemprov Jawa Barat “nebeng” ke Masjid Agung Bandung makanya namanya diubah menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Usulan itupun disambut positif Ahmad Heryawan yang kelak masjid tersebut didesain langsung oleh Ridwam Kamil yang punya latar belakang arsitek.

Lokasinya masjid di Gedebage pun diusulkan sendiri oleh Ridwan Kamil dan dirinya menghibahkan desain masjid tersebut kepada Pemprov Jawa Barat.

“Itu kalimat saya ke Pak Aher pada 2016 lalu, saya bilang provinsi bikin saja sendiri nanti saya hibahkan desainnya dan lokasinya saya usulkan di Gedebage,” ujar Ridwan Kamil.

Allah SWT menakdirkan Ridwan Kamil yang awalnya merupakan seorang pemberi gagasan atau ide terkait Masjid Al Jabbar, namun saat ini dirinya menjadi sosok pengambil keputusan dalam proyek infrastruktur tersebut.

Dibutuhkan waktu sekitar satu bulan, bagi Ridwan Kamil untuk berimajinasi, berkotemplasi hingga riset terkait desain Masjid Al Jabbar.

Konsep dari bangunan Masjid Al Jabbar sendiri berasal dari rumus matematika yang identik dengan rumus aljabar. Ini terlihat dari ornamen rumit namun indah. Ilmuan matematika dunia juga bernama Aljabar.

Al Jabbar juga merupakan salah satu nama dari asmaul husna yang dituliskan di bagian mihrab masjid.

Selain itu, Al Jabbar juga nama asmaul husna yang kita tuliskan di mihrab yang artinya agung.

“Kebetulan juga Al Jabbar bisa jadi singkatan Jawa Barat, jadi sudah takdirnya namanya berjodoh,” Kata dia.

Tak sedekar masjid

Secara keseluruhan, Al Jabbar tidak hanya sekadar masjid. Proyek kedua dari bangunan tersebut adalah museum Rasulullah dan sejarah Islam nusantara serta Jawa Barat yang terletak di lantai dasarnya. Namun per tanggal 30 Desember 2022 nanti proyek tersebut tidak bisa diresmikan dulu karena masih ada pekerjaan yang belum sepenuhnya rampung.

Kemudian proyek ketiganya adalah danau pengendali banjir untuk wilayah Gedebage.

Masjid yang berada di kelurahan Cimincrang ini seolah-olah berdiri terapung di atas air.

Ridwan Kamil berharap, danau tersebut mampu mengendalikan banjir di wilayah Gedebage yang akhir-akhir ini sering terjadi. Proyek keempatnya adalah taman yang mengelilingi masjid.

“Itulah kenapa program di sini tidak hanya membangun masjid tapi tiga urusan lainnya,” kata Ridwan Kamil.

Akses menuju Masjid Al Jabbar ada tiga jalur. Yaitu jalur dari jalan Cimincrang, kemudian dari perempatan Gedebage (by pass Soekarno Hatta). Namun satu akses lagi belum bisa dibuka karena sedang diaudit, yaitu akses dari KM 149 tol Purbaleunyi.

Masjid Al Jabbar juga dikonsepkan memiliki 27 pintu yang menyimbolkan 27 kabupaten/kota di Jabar.

Ukiran batik dari 27 pintu tersebut berbeda-beda sesuai kekhasan masing-masing daerah. Ukiran batik dari pintu tersebut beda-beda sesuai khas daerahnya, jadi 27 wilayah ini terwakili ke Jawa Baratannya.

Adapun kapasitas masjid Al Jabbar dapat menampung 20 ribu jamaah hanya untuk lantai bawah. Untuk lantai atasnya yang mayoritas dipergunakan untuk jamaah perempuan mampu menampung hingga 3.000 orang.

Di area Alun-alun pun dapat digunakan untuk salat karena sudah dipasang garis saf salat yang bisa menampung hingga 20 ribu jamaah.

Gerakkan ekonomi masyarakat

Pembangunan Masjid Al Jabbar dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat di Cimincrang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Mereka menyambut baik rencana peresmian masjid yang didesain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil itu pada 30 Desember 2022.

Salah satu warga Cimincrang, Gedebage, Aas Astuti (27) menuturkan bahwa pembangunan Masjid Al Jabbar berdampak positif pada omzet warung nasi miliknya.

Semenjak masjid mulai dibangun pada akhir 2017, jumlah pembeli meningkat signifikan.

Aas mengetahui bahwa Masjid Al Jabbar tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat beribadah, tetapi juga wisata dan edukasi ke-Islaman. Ia optimistis jumlah pengunjung masjid akan banyak setelah diresmikan.

Aas berharap, setelah diresmikan, keberadaan Masjid Al Jabbar di Cimincrang, Gedebage, Kota Bandung, dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar dengan signifikan.

Hal senada dikatakan Rini Kurniasih (43). Menurutnya, keberadaan Masjid Al Jabbar akan mendongkrak perekonomian masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai pedagang.

Pengelolaan Masjid Al Jabbar

Masjid Al Jabbar akan dikelola oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang diketuai langsung oleh Kang Emil.

Secara ex-officio wakil ketua DKM Al Jabbar juga akan dijabat oleh Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum dan ketua harian diisi oleh Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmadja.

Kemudian pengurus DKM-nya yaitu perwakilan 27 aktivis muslim dari 27 kabupaten/kota.

Gubernur Ridwan Kamil menargetkan untuk dua hingga tiga tahun pertama pengelolaan Masjid Al Jabbar masih menggunakan APBD Jabar. Namun tahun keempat masjid ini akan mandiri secara ekonomi.

Dari awal pembangunan, Masjid Al Jabbar memang sudah dikonsepkan mandiri ekonomi seperti halnya rumah sakit.

Pendapatan dari masjid nantinya tidak akan masuk ke APBD tapi langsung dikelola sendiri dan akan dikonsepkan seperti Masjidil Haram dari segi pengelolaan hingga memiliki pegawai yang mayoritas untuk warga lokal.

Itulah kenapa di masjid Masjid Al Jabbar, yang akan diresmikan pada Jumat, 30 Desember 2022 ini, selain kegiatan utamanya adalah beribadah juga akan ada kegiatan ekonomi dan wisata religi.

Seperti hadirnya museum, bazar di area Alun-alun, foodcourt, perahu, bahkan untuk prewedding juga diperbolehkan selama menjaga ketertiban dan tak mengganggu kegiatan ibadah.

Haru

“Haru”, itulah kata yang bisa mewakili perasaan seorang Ridwan Kamil, ketika melihat Masjid Al Jabbar yang berdiri tegak di tengah-tengah danau buatan.

Di dalam kata “haru” itu ada rasa bangga, sedih hingga bahagia yang berkumpul menjadi satu.

Ridwan Kamil ingin mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023 dengan sesuatu yang indah dari sebuah karya besar rancangannya.

“Jadi kalau saya sudah tidak menjabat sebagai gubernur, saya datang dengan Arka, alhamdulillah ayah waktu itu jadi gubernur, bikin masjid. Jadi haru mewakili perasaan saya,” kata dia. *(Ant)

Artikulli paraprakPEMBAIATAN LEMBAGA PCNU BREBES
Artikulli tjetërKabag TU : Dosen PAI Mitra Strategis Penguatan Moderasi Beragama

Terima kasih atas Koemntar Anda. Ikuti terus kontens portal ini.