(Artikel #2 dari 30 Artikel Mengapa Program MBG Layak Dibatakan) Oleh : Bernard Simamora, S.Si., S.IP., S.H., M.H., M.M., Advokat & Konsultan Hukum.
Ada kebijakan yang secara moral terasa hampir mustahil ditolak: memberi makan anak-anak. Ia menyentuh naluri paling dasar, melindungi generasi berikutnya. Di ruang publik, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering dibingkai sebagai bentuk kasih sayang negara: anak sekolah tidak lagi belajar dengan perut kosong; keluarga terbantu; gizi bangsa terangkat; masa depan “Indonesia Emas” dipasangi fondasi. Di level emosi, kebijakan seperti ini terasa benar bahkan sebelum diuji.
Tetapi kebijakan publik bukan hanya soal emosi. Kebijakan publik adalah seni dan ilmu memindahkan niat baik ke lapangan, ke dapur, ke rantai pasok, ke prosedur pengadaan, ke ruang kelas, ke catatan anggaran, hingga ke mekanisme pengaduan. Dan di dunia nyata, program makan gratis berskala nasional tidak berjalan di ruang hampa. Ia hidup dalam ekonomi yang bisa melambat, harga pangan yang bisa melonjak, cuaca yang makin ekstrem, kualitas birokrasi yang tidak merata, dan, ini yang sering diabaikan, politik yang selalu punya insentif untuk “menempel” pada kebijakan populer.
Karena itu, pertanyaan yang lebih adil bukan “setuju atau tidak setuju dengan MBG”, melainkan pertanyaan yang lebih menuntut: apakah kebijakan ini tahan uji? Tahan uji bukti ilmiah, tahan uji implementasi, tahan uji anggaran, tahan uji krisis pasca-pandemi, dan tahan uji godaan politisasi. Artikel ini mengajak pembaca menilai MBG melalui serangkaian “alat uji”, dengan bahasa yang mudah dicerna awam, tetapi tetap berpijak pada literatur akademik dan laporan lembaga internasional.
- Pelajaran dari dunia: program makan sekolah bisa berhasil, tapi tidak otomatis
Di banyak negara, program makan sekolah (school feeding) adalah instrumen kebijakan yang cukup tua. Ia pernah digunakan untuk meningkatkan partisipasi sekolah, menjadi jaring pengaman sosial, dan memperbaiki gizi anak. Namun literatur internasional menunjukkan satu pesan yang berulang: dampak program makan sekolah sangat bergantung pada desain dan cara pelaksanaan.
Sebuah studi uji coba teracak (randomized trial) di Burkina Faso membandingkan dua skema makan sekolah dan menemukan dampak yang berbeda pada hasil pendidikan dan kesehatan.[1] Ini penting karena dua skema itu, di mata awam, mungkin sama-sama “memberi makan”. Tetapi cara pemberian (misalnya makanan di sekolah versus ransum untuk dibawa pulang), mekanisme distribusi, dan konteks lokal dapat menghasilkan efek yang tidak sama. Di Uganda, penelitian mengenai program “food for education” menemukan dampak pada partisipasi sekolah, menegaskan bahwa program makan dapat mendorong kehadiran, namun hasilnya tetap terkait dengan desain program dan kondisi setempat.[2]
Sementara itu, buku rujukan lintas sektor tentang program makan sekolah yang diterbitkan World Bank menempatkan school feeding bukan sekadar bantuan makanan, tetapi platform kebijakan yang bersinggungan dengan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.[3] Artinya, program makan sekolah bisa menjadi “jembatan” antar sektor, tetapi justru karena multisektoral, ia mudah tergelincir bila koordinasinya lemah.
Dari sini, kita bisa mengambil pelajaran awal: keberhasilan MBG tidak ditentukan oleh kemuliaan ide, melainkan oleh “mesin” kebijakan yang membuat ide itu hidup setiap hari. Jika mesin itu tidak tahan uji, program bisa tetap terlihat berjalan di permukaan (porsi tersalurkan), tetapi gagal pada hasil yang paling penting (gizi membaik, pembelajaran meningkat, ketimpangan menurun).
- Uji pertama: tujuan program harus jelas, karena satu program tidak bisa memecahkan semuanya sekaligus
Bayangkan seseorang datang ke dokter dengan keluhan: pusing, batuk, nyeri sendi, dan sulit tidur. Dokter yang baik tidak langsung memberi “satu obat untuk semua”. Ia akan bertanya: mana gejala utama, apa penyebab paling mungkin, intervensi mana yang paling efektif dan aman, serta bagaimana memantau hasilnya.
Kebijakan publik juga begitu. MBG sering membawa banyak tujuan sekaligus, dan itu wajar, karena makan bergizi memang berdampak lintas sektor. Tetapi ketika tujuan terlalu banyak, ada risiko serius: program menjadi kabur, evaluasi menjadi sulit, dan pada saat krisis program tidak tahu harus menyelamatkan apa dulu.
Secara sederhana, tujuan MBG biasanya bisa dikelompokkan menjadi tiga:
- Tujuan gizi dan kesehatan. Mengurangi kekurangan gizi, memperbaiki asupan protein dan mikronutrien, menurunkan anemia, memperkuat kesehatan anak.
- Tujuan pendidikan. Meningkatkan konsentrasi, menurunkan absensi, meningkatkan partisipasi sekolah, bahkan diharapkan berdampak ke hasil belajar.
- Tujuan sosial-ekonomi. Mengurangi beban belanja rumah tangga, menjadi bantalan ketika harga pangan naik, dan (sering disebut) menggerakkan ekonomi lokal melalui pengadaan bahan dari petani/UMKM.
Masalahnya: setiap tujuan punya indikator keberhasilan yang berbeda. Kalau tujuan utama gizi, ukuran keberhasilan bukan “berapa porsi dibagi”, melainkan kualitas gizi menu, konsistensi, serta indikator kesehatan yang relevan (misalnya anemia). Kalau tujuan utama pendidikan, ukuran keberhasilan butuh data kehadiran, partisipasi, dan (bila memungkinkan) ukuran belajar. Jika tujuan utama bantuan sosial, maka program harus menjelaskan mekanisme penargetan, apakah universal atau terarah.
Di sinilah muncul perdebatan kebijakan yang sering tidak enak didengar: universal vs targeted. Program universal (semua anak menerima) sederhana secara komunikasi dan menghindari stigma, tetapi biayanya besar. Program terarah (misalnya prioritas untuk kelompok miskin/daerah tertinggal) lebih hemat dan presisi, tetapi menuntut data sasaran dan kapasitas administrasi yang kuat.
Pertanyaan uji yang tajam adalah ini: ketika fiskal mengetat, apa yang dipertahankan? Program yang tahan uji biasanya punya prinsip jelas: jaga mutu dan lindungi kelompok paling rentan lebih dulu. Program yang tidak punya prioritas akan cenderung menjaga “angka” (jumlah penerima) demi citra, sambil mengorbankan mutu tanpa mengaku.
- Uji kedua: “bergizi” harus berarti standar yang bisa diaudit, bukan sekadar label
Dalam kebijakan berskala besar, label sering lebih cepat menyebar daripada isi. Kata “bergizi” adalah label yang kuat, tetapi di lapangan, kata itu harus diterjemahkan menjadi standar yang bisa diperiksa.
Ada jebakan klasik: ketika program diperluas cepat, pengadaan dikejar, target porsi dikejar, biaya ditekan, lalu menu bergeser ke yang paling murah dan paling mudah disediakan massal. Dalam kondisi itu, program mungkin tetap “memberi makan”, tetapi yang diberikan menjadi sekadar pengganjal lapar: karbohidrat dominan, protein minimal, sayur-buah tidak konsisten, mikronutrien nyaris tidak dibahas.
Padahal literatur program makan sekolah menekankan bahwa dampak yang diharapkan, baik pada kesehatan maupun pendidikan, sangat terkait dengan kualitas asupan dan konsistensi layanan. Jika menu tidak stabil, jika standar tidak jelas, atau jika substitusi dilakukan sembarang, maka sulit berharap dampak gizi yang nyata.
Agar “bergizi” bukan jargon, setidaknya ada empat komponen yang harus jelas:
- Standar komposisi dan porsi. Berapa minimal protein? seberapa sering sayur/buah? batas gula/garam/lemak? Ini bukan detail remeh, ini inti program.
- Strategi mikronutrien. Defisiensi zat besi, yodium, vitamin A, dan sebagainya tidak diselesaikan hanya dengan “nasi + lauk”. Apakah ada fortifikasi? Apakah ada menu yang memang dirancang untuk mikronutrien?
- Standar substitusi. Ketika telur mahal atau pasokan ayam terganggu, substitusinya apa? Tahu-tempe bisa jadi substitusi, tetapi harus diperhitungkan porsi proteinnya. Tanpa standar substitusi, “bergizi” akan bergantung pada improvisasi vendor atau sekolah.
- Sistem pemantauan mutu. Standar tanpa pengawasan adalah doa. Program harus punya mekanisme audit menu, uji acak, dan pelaporan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Di sinilah pelajaran penting dari literatur value for money muncul: program multisektoral seperti makan sekolah bisa tampak sangat baik, tetapi ketika biaya administrasi, logistik, dan pengawasan membengkak, manfaat bersihnya bisa menurun.[4] Dengan kata lain, membangun sistem “bergizi yang terjaga” itu mahal, tetapi bila tidak dibangun, program kehilangan jiwa.
- Uji ketiga: keamanan pangan, risiko besar yang sering diremehkan
Jika program melayani jutaan anak, maka satu insiden keamanan pangan dapat berubah menjadi krisis nasional. Bukan hanya karena korban, tetapi karena psikologi orang tua. Sekali publik kehilangan rasa aman, program akan menghadapi resistensi bahkan dari kelompok yang paling membutuhkan.
Keamanan pangan bukan sekadar “masak sampai matang”. Dalam layanan massal, ia menyangkut:
- kebersihan dapur dan alat,
- pelatihan penjamah makanan,
- standar penyimpanan (suhu, waktu),
- kualitas bahan baku,
- rantai pasok yang aman,
- transportasi yang memadai,
- dan protokol respons insiden.
Program yang tahan uji biasanya menganggap keamanan pangan sebagai “biaya wajib”, bukan “biaya tambahan”. Ia membangun SOP, pelatihan, inspeksi, dan sistem pelaporan insiden sejak awal.
Kerangka WHO tentang kebijakan pengadaan pangan publik untuk diet sehat menekankan pentingnya tata kelola, tanggung jawab, dan transparansi dalam penyediaan layanan pangan publik.[5] Meski kerangka itu tidak khusus untuk MBG, prinsipnya relevan: layanan pangan publik harus punya standar dan tata kelola, karena dampaknya langsung pada kesehatan.
- Uji keempat: implementasi harian, logistik adalah ujian sebenarnya
Banyak kebijakan runtuh bukan karena ide buruk, melainkan karena mesin implementasinya tidak realistis. Program makan sekolah adalah layanan harian: pengadaan bahan → produksi → distribusi → konsumsi → pengelolaan limbah → evaluasi. Satu titik macet dapat mengacaukan seluruh rantai.
Di Indonesia, tantangan implementasi memiliki “lapisan realitas” yang tidak bisa dihapus oleh slogan:
- Disparitas fasilitas sekolah. Tidak semua sekolah punya dapur, air bersih, ruang makan, atau fasilitas penyimpanan. Bahkan kalau makan disuplai vendor, sekolah tetap perlu ruang distribusi yang aman.
- Kualitas SDM yang tidak merata. Pelaksana program di lapangan beragam latar belakangnya. Pelatihan diperlukan, dan pelatihan itu butuh biaya dan waktu.
- Geografi kepulauan dan daerah sulit akses. Pengiriman makanan siap saji untuk jarak jauh punya risiko keamanan pangan. Jika bahan baku datang terlambat, menu berubah.
- Waktu operasional sekolah. Makanan harus datang pada jam yang tepat. Terlambat berarti makanan tidak dimakan, atau dimakan dalam kondisi tidak aman.
Literatur manajemen rantai pasok untuk program makan sekolah menekankan faktor kritis desain program yang berkelanjutan: koordinasi, struktur pengadaan, ketepatan desain desentralisasi, dan kapasitas operasional.[6] Dengan kata lain, program makan sekolah adalah masalah logistik dan tata kelola, bukan sekadar masalah “menu”.
Titik yang sering luput: model layanan tidak bisa seragam. Kota besar mungkin cocok dengan vendor katering terstandar. Wilayah pedesaan mungkin lebih cocok dengan dapur komunitas. Kepulauan mungkin butuh model berbasis bahan lokal dan dapur setempat dengan pengawasan ketat. Bila model dipaksakan seragam, program akan terlihat rapi di pusat namun bolong-bolong di pinggiran.
- Uji kelima: keberlanjutan fiskal, program harian bertemu APBN yang bisa mengencang
Program harian berskala nasional adalah belanja rutin yang kaku. Ketika ekonomi normal saja, ini sudah menuntut disiplin anggaran. Tetapi pasca pandemi COVID-19, dunia memasuki periode yang lebih tidak stabil: inflasi pangan tinggi di banyak negara, suku bunga global meningkat, pertumbuhan melambat, dan gangguan geopolitik memukul rantai pasok pangan.
Bank Dunia mencatat inflasi pangan domestik tetap tinggi di hampir semua negara pada periode tertentu; bahkan di banyak negara, inflasi pangan melampaui inflasi umum.[7] IMF dalam World Economic Outlook membahas konteks krisis biaya hidup dan dinamika tekanan harga pangan.[8] Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan “tahan uji” menjadi lebih mendesak: apa yang terjadi ketika harga bahan naik? Apakah anggaran dinaikkan? cakupan dikurangi? atau kualitas diturunkan diam-diam?
Dalam banyak program besar, opsi ketiga sering terjadi karena paling mudah: menjaga angka cakupan (yang terlihat publik) sambil menurunkan kualitas (yang tidak langsung terlihat). Tetapi bagi program gizi, opsi itu adalah kegagalan desain karena tujuan utama hancur.
Kita juga perlu jujur tentang biaya peluang. Uang publik selalu terbatas. Literatur menekankan pentingnya menilai nilai program multisektoral relatif terhadap alternatif, karena biaya implementasi bisa mengubah kesimpulan efektivitas biaya. Jika tujuan utama adalah gizi ibu-anak, misalnya, apakah MBG lebih efektif daripada intervensi yang lebih spesifik? Jawabannya tidak bisa diimprovisasi; ia harus diuji dengan data.
Sebagian sumber domestik yang tersedia menunjukkan besarnya skala anggaran yang dibicarakan untuk MBG di tahun-tahun tertentu. Katadata Databoks, misalnya, memuat angka target anggaran yang besar dalam konteks RAPBN 2026.[9] Sumber resmi BGN juga menyebut dukungan anggaran yang besar serta komponen pendukungnya.[10] Angka besar bukan berarti program salah, tetapi ia meningkatkan konsekuensi kesalahan desain: kebocoran, inefisiensi, dan penurunan mutu menjadi lebih mahal, baik secara finansial maupun secara sosial.
- Uji keenam: apakah MBG lahir dari kajian mendalam, atau dari pesona kebijakan?
Dalam sains, ide yang indah tetap harus diuji. Dalam kebijakan publik, program yang populer juga harus diuji. Program makan sekolah yang kredibel biasanya lahir dari paket kajian: analisis kebutuhan, studi biaya, rancangan menu, pemetaan kapasitas, pilot terukur, dan evaluasi dampak.
Studi di Burkina Faso dan Uganda menunjukkan pentingnya evaluasi dampak yang serius untuk memahami apa yang benar-benar terjadi pada indikator pendidikan dan kesehatan. Program besar tidak cukup mengandalkan testimoni, karena testimoni mudah bias: yang menerima program mungkin merasa terbantu (dan itu valid), tetapi apakah dampaknya sesuai tujuan? Apakah ada efek samping? Apakah ada ketimpangan implementasi? Itu memerlukan data.
Pertanyaan yang perlu dijawab publik adalah:
- apakah ada hasil pilot yang dipublikasikan?
- indikator apa yang dipantau?
- bagaimana standar menu ditetapkan dan diawasi?
- apakah ada evaluasi independen?
Ketertutupan bukan hanya masalah etika; ia masalah ketahanan. Program yang tidak transparan mudah diserang, bahkan bila manfaatnya nyata, karena publik tidak punya alat untuk memisahkan kritik yang sah dari rumor.
- Uji ketujuh: mulia memberi makan, atau “makanan empuk” bagi mesin politik?
Program sosial besar punya dua wajah. Ia bisa menjadi mesin kewargaan, hak warga yang dijalankan institusi secara impersonal dan akuntabel. Tapi ia juga bisa menjadi mesin politik, dipersonifikasi, dijadikan panggung klaim jasa, dan menjadi ladang rente melalui pengadaan.
Literatur tentang perlindungan sosial dan klientelisme menunjukkan bahwa desain program bisa memengaruhi hubungan warga dengan patron politik; program yang dirancang sebagai hak yang jelas dan akuntabel dapat melemahkan klientelisme.[11] Tetapi program makan sekolah juga identik dengan rantai kontrak besar: vendor, pemasok, distribusi, peralatan, dan seterusnya. Di titik itu, risiko politisasi pengadaan muncul.
Kajian tentang audit sosial dalam home-grown school feeding menekankan bahwa program tidak mencapai potensi penuh bila manajemen buruk dan transparansi lemah.[12] WHO menekankan tata kelola dan transparansi dalam kebijakan pengadaan pangan publik. Kajian lain membahas pengadaan inklusif dan transparan agar petani kecil bisa terhubung ke program makan sekolah tanpa membuka ruang rente.
Agar MBG tidak menjadi “makanan empuk” bagi mesin kekuasaan, beberapa pagar minimal perlu ada:
- Branding institusional, bukan personalisasi figur. Bantuan publik adalah hak warga, bukan hadiah pribadi.
- Transparansi pengadaan. Ringkasan kontrak, vendor, harga satuan, dan kinerja vendor harus dapat dipantau.
- Audit sosial dan kanal pengaduan. Sekolah dan orang tua perlu jalur aman untuk melapor bila kualitas buruk atau ada penyimpangan.
- Penargetan/ekspansi berbasis data kebutuhan. Jika program bertahap, ekspansi harus mengikuti indikator kebutuhan, bukan peta politik.
Tanpa pagar ini, program yang sebenarnya baik bisa rusak oleh persepsi dan praktik, karena publik tidak akan memisahkan “niat program” dari “cara program dijalankan”.
- Paket “stress test” pasca-pandemi: kapan MBG menjadi tidak layak dipaksakan?
Sekarang kita masuk pada inti pertanyaan yang sering menggelisahkan: bagaimana menilai kelayakan MBG saat krisis ekonomi global pasca-pandemi?
Krisis pasca-pandemi bukan sekadar cerita. Bank Dunia mencatat inflasi pangan domestik tetap tinggi di banyak negara. IMF membahas tekanan biaya hidup dan dinamika ekonomi global yang dapat menahan turunnya harga pangan.8 Dalam konteks seperti ini, program makan sekolah nasional menghadapi ujian yang jauh lebih keras dibanding kondisi normal.
Berikut “alat uji ketidaklayakan” yang praktis:
(A) Food Price Shock Test , uji lonjakan harga pangan
Jika harga bahan pokok naik tajam:
- Apakah kualitas menu (terutama protein dan mikronutrien) tetap terjaga?
- Atau program bertahan dengan menurunkan kualitas agar angka penerima tidak turun?
Tanda gagal: mutu turun sistematis, menu menjadi dominan karbo murah. Ini kegagalan karena program gizi kehilangan substansi.
(B) Exchange Rate Pass-Through Test , uji pelemahan kurs
Jika kurs melemah, banyak input pangan terdorong naik:
- Apakah ada mekanisme buffer (substitusi lokal terstandar, kontrak adaptif, cadangan)?
- Atau biaya naik memaksa pemangkasan mutu?
Tanda gagal: penghematan berbasis mutu, bukan efisiensi.
(C) Fiscal Squeeze Test , uji penyempitan fiskal
Jika penerimaan melambat dan belanja wajib naik:
- Apakah MBG memiliki skenario penyesuaian yang adil?
- Atau program mengunci belanja besar sehingga menggerus layanan dasar lain?
Tanda gagal: program bertahan karena populer, sementara layanan yang lebih menyelamatkan nyawa (misalnya kesehatan primer) tertekan.
(D) Supply Chain Disruption Test , uji gangguan distribusi
Jika cuaca ekstrem, bencana, atau gangguan logistik terjadi:
- Apakah ada rencana cadangan dan pemasok alternatif?
- Apakah tingkat kegagalan layanan dipantau?
Tanda gagal: program sering bolong, terutama di wilayah terpencil, yang justru sering paling membutuhkan.
(E) Food Safety Stress Test , uji keamanan pangan saat skala membesar
Saat volume naik, apakah:
- inspeksi dan audit naik sebanding,
- SOP diterapkan konsisten,
- sistem respons insiden bekerja?
Tanda gagal: insiden meningkat, kepercayaan publik jatuh.
(F) Opportunity Cost Test , uji biaya peluang
Dalam krisis, apakah MBG tetap intervensi terbaik dibanding alternatif yang lebih tepat sasaran? Literatur mengingatkan pentingnya value for money dalam program multisektoral karena biaya operasional dan tata kelola bisa besar.
Tanda gagal: MBG dipertahankan terutama karena popularitas, bukan karena hasilnya paling efektif.
Jika sebuah program gagal pada banyak uji di atas, maka kesimpulan kebijakannya bukan “membenci program”, melainkan: desainnya perlu direvisi, bisa melalui prioritas sasaran, penyesuaian model layanan, atau penundaan ekspansi sampai sistem pengawasan matang.
- Seperti apa MBG yang benar-benar tahan uji?
Kritik tanpa peta perbaikan hanya melahirkan sinisme. Karena itu, berikut “kontrak ketahanan” yang bisa membuat MBG tetap mulia sekaligus tahan uji:
- Tujuan utama dipersempit dan dijelaskan. Pilih 2–3 indikator hasil yang utama (misalnya anemia/kehadiran/konsentrasi). Program bisa punya manfaat tambahan, tetapi evaluasi harus fokus.
- Standar menu dan substitusi yang bisa diaudit. Standar minimal komposisi dan substitusi bahan (ketika harga naik) harus tertulis jelas.
- Sistem keamanan pangan yang sebanding dengan skala. SOP, pelatihan, inspeksi, audit, protokol insiden, dan transparansi laporan.
- Model layanan berbeda untuk konteks berbeda. Urban, rural, kepulauan tidak bisa diseragamkan. Kebijakan tahan uji berani mendesain variasi yang rasional.
- Transparansi pengadaan + audit sosial. Ringkasan kontrak, vendor, harga satuan, kinerja vendor dibuka; audit sosial difungsikan sebagai pagar integritas.[13]
- Pilot dan evaluasi dampak. Perluasan besar seharusnya bertumpu pada pilot terukur, evaluasi yang kredibel, dan perbaikan iteratif.
- Protokol krisis. Apa yang terjadi saat harga naik? apa yang disesuaikan dulu? siapa yang diprioritaskan? Ini harus disepakati sebelum krisis, bukan saat panik.
Jika elemen-elemen ini ada, MBG tidak lagi bergantung pada retorika. Ia bergantung pada sistem, dan sistem yang baik bisa bertahan melintasi pergantian politik.
Penutup: kebijakan yang baik tidak hanya baik hati, tetapi tahan banting
Memberi makan anak adalah tindakan mulia. Namun MBG bukan sekadar tindakan; ia adalah mesin layanan publik berskala nasional. Ia akan diuji oleh inflasi pangan, gangguan pasok, kapasitas daerah yang beragam, kualitas pengawasan, dan godaan politisasi.
Pelajaran dari riset internasional memberi harapan sekaligus peringatan: program makan sekolah dapat berdampak, tetapi dampaknya sangat bergantung pada desain dan implementasi. Dalam dunia pasca-pandemi yang penuh ketidakpastian, di mana inflasi pangan tinggi tercatat meluas, ketahanan program menjadi syarat utama.
Maka pertanyaan yang paling penting bukanlah “apakah program ini mulia?” (ia tampak mulia). Pertanyaan yang lebih menentukan adalah: apakah kebijakan ini tahan uji, atau hanya tampak indah di poster? Jika MBG ingin menjadi warisan kebijakan yang benar, ia harus bersedia diuji dengan ukuran yang keras, transparan, dan adil. Karena pada akhirnya, yang layak diwariskan bukan kebijakan yang paling populer, melainkan kebijakan yang paling efektif melindungi anak, bahkan ketika dunia sedang krisis.
(Disajikan secara ilmiah dan argumentatif tanpa tendensi pribadi oleh Bernard Simamora, S.Si., S.IP., S.H., M.H., M.M., Advokat & Konsultan Hukum, penulis dan pengamat sosial)
[1] Kazianga, H., de Walque, D., & Alderman, H. (2009). Educational and health impacts of two school feeding schemes: Evidence from a randomized trial in rural Burkina Faso. World Bank Policy Research Working Paper.
[2] Alderman, H., Gilligan, D. O., & Lehrer, K. (2012). The impact of food for education programs on school participation in northern Uganda. Economic Development and Cultural Change.
[3] Bundy, D. A. P. (Ed.). (2009). Rethinking School Feeding: Social Safety Nets, Child Development, and the Education Sector. World Bank.
[4] Alderman, H., Aurino, E., Baffour, P. T., Gelli, A., & Turkson, F., et al. (2021). How much are multisectoral programs worth? A new method with an application to school meals.
[5] World Health Organization. (2021). Action framework for developing and implementing public food procurement and service policies for a healthy diet. WHO.
[6] Kretschmer, A., Spinler, S., & Van Wassenhove, L. N. (2014). A school feeding supply chain framework: Critical factors for sustainable program design. Production and Operations Management.
[7] World Bank. (2023). Food Security Update LXXVI (January 12, 2023): Domestic food price inflation remains high in almost all countries.
[8] International Monetary Fund. (2022). World Economic Outlook: Countering the Cost-of-Living Crisis (October 2022).
[9] Katadata Databoks. (2026). RAPBN 2026: Anggaran Makan Bergizi Gratis Rp335 Triliun (tabel target anggaran 2025–2026).
[10] Badan Gizi Nasional (BGN). (2025/2026). Tiga Kunci Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis: Anggaran, SDM, dan Infrastruktur (siaran pers).
[11] Swamy, A. R. (2016). Can social protection weaken clientelism? Considering conditional cash transfers as political reform in the Philippines. Journal of Current Southeast Asian Affairs.
[12] Thomson, I., & Sadler, S. (2016). Social Audits: Speaking up for Home Grown School Feeding: Procurement Governance for home grown school food programme. University of Dundee (PDF).
[13] Brooks, J., Commandeur, D., & Vera, E. (2019). Inclusive procurement and transparency, connecting smallholder farmers to school feeding. Gates Open Research.





















