Beranda Pendidikan Dialog NU Pojok Kota Brebes

Dialog NU Pojok Kota Brebes

H. Lukman Nur Hakim, S.Psi. M.Pd

Dialog NU pojok Kota Brebes merupakan wadah diskusi sebagian kecil masyarakat Brebes yang secara akidah mengikuti Ahlussunah Annahdiyah dengan kajian-kajian tema seputar NU kulturan structural, budaya dan keIndonesiaan sebagai wujud menumbuhkan kembali semangat dakwa NU dalam diri peserta dialog. Masyarkat NU Brebes pada khususnya dan kaum nahdiyin dimanapun pada umumnya.

Dialog ini merupakan percakapan yang terjadi antar peserta dan adanya pemikiran divergen (berpikir kreatif yang dapat menggunakan informasi sebanyak mungkin ide) dan konvergen (berpikir fokus pada persoalan yang sedang dihadapi) yang dapat membantu memunculkan persfektif, pendapat dan jawaban dalam persoalan NU yang ada di ranting bahkan sampai cabang.

Dialog NU pojok Kota Brebes menjadi wadah komunikasi untuk menemukan kesamaan persepsi, menciptakan komunikasi dalam memahami makna jamiyah NU kekinian dan semangat para muasis NU secara bersama-sama, serta saling memahami dari sudut pandang kepakaran peserta dialog.

Peserta dialog adalah mereka dari kalangan masyarakta NU yang ada di Brebes, baik struktural maupun kultural. Peserta dialog bebas bicara tentang NU. Dari NU oleh NU dan untuk NU. Bicara NU oleh orang NU. Dan secara lebih fokus bicara NU Brebes dari masyarakat NU Brebes itu sendiri. Serta tidak ada klausul saling menyalahkan bahkan dalam dialog adanya saling memami pendapat orang lain, bukan mempertahankan dan menganggap dirinya paling benar. Tidak ada pendapat yang salah, sehingga dengan sendirinya peserta dialog diberi kebebasan untuk bicara.

Dialog memunculkan tema-tema umum dan mengalir sesuai kepakaran peserta. Dialog dari hilir kehulu, bicara tentang NU bagaikan perusahan besar atau rumah besar yang memiliki usaha keumatan yang besar pula. Sehingga tema ini cukup menarik dan ditangkap oleh peserta  menjadi tema yang didialogkan.

NU Rumah Besar

NU bagaikan rumah besar yang memiliki halaman luas dan dihuni oleh beberapa keluarga besar pula. Rumahnya para lembaga NU, Badan otonom dan pengurus  itu sendiri bersama Syuriah dan tanfidziyah. Tidak ketinggalan pula rumah milik kaum kulturan Nahdiyin, yang memiliki konsep, gagasan, pemikiran dan pekerjaan yang sangat luar biasa.

Semisal kalau dalam satu rumah ada yang tidak terakomodir, kemungkinan akan protes, bahkan  pergi dari runah besar NU, dia akan mengatakan ” Saya sama-sama hidup dalam rumah besar NU, seharusnya mendapatkan perlakuan yang sama.” Orang tua dalam hal ini ketua tanfidziyah maupun syuruaiah, akan menjadi sentral pencerahan bagi anak-anaknya, ia akan tegas dan berbicara untuk mengatasinya, sehinga tidak perlu terjadi berkelahi dan bahkan bercerai berai (keluar dari NU). Posisi orang tua adalah pemberi nasehat. Inilah pungsi kepengurusan yang lebih tinggi, pemberi solusi terhadap masalah kepengurusan di bawahnya, bukan hidup dari program yang dilakukan oleh anak-anaknya dalam satu rumah yang besar.

Rumah besar NU tentu memiliki  visi misi, ahlak, pendidikan dan mental besar, yang tentu tak bisa lepas dari payung pimikiran-pemikiran tokoh pendiri NU sebagaimana disebutkan dalam Qonun Asasi, Mabadi haira umah dan perilaku beroraganisasi dalam Risalah Ahlussunahnya.

Disadari taupun tidak, dalam rumah NU banyak orang hebat, professional dalam berbagai bidang, baik akademisi, birokrasi maupun dipanggung politik. Sehingga sangat wajar muncul pertanyaan, kenapa dalam satu rumah besar NU belum maksimal untuk bisa saling membantu. Mewujudkan kekuatan NU yang digagas oleh NU secara mandiri. NU yang mandiri dan tidak berafiliasi kemana-mana. NU tetap berpolitik kebangsaan dan kerakyatan.

Rumah besar NU yang memiliki tradisi merawat dan mencetak ulama, Kebangkitan ulama seirama dengan hadirnya para pengusaha dalam merawat rumah besar agar selalu penuh aktivitas dalam kesaharian dan mampu mengakomodir para penghuni rumah melakukan aktifitas masing-masing. Siapa yang menjadi kepala rumah tangga, bagaikan seorang masinis yang akan menarik gerbongnya agar bisa berjalan sesuai dengan relnya. Ketika gerbong-gerbong berjalan sesuai dengan realnya dalam membawa NU, maka bisa dikatakan tidak akan kualat, tetapi sebaliknya jalanya keluar dari realnya kemungkinan kualat akan diterimanya.

Begitu juga ketika terjadi kerusakan dalam rumah NU, segeralah diperbaiki. Jangan sampai berlarut-larut sehingga merusak pada sendi-sendi yang lain. Pemimpin harus peka terhadap persoalan yang ada dalam rumahnya. Melek kondisi sosial politik ummat dan faham antara pertemanan dan permusuhan.  Oleh karena itu Berhati-hatilah dengan para penghuni baru dalam kepengurusan jangan sampai diisi oleh orang-orang tidak jelas perjalanan pemahaman keagamaannya dan riwayat keaktifanya didalam rumah besar NU.

Komunitas  Dialog NU Pojok Kota Brebes, berusaha menggagas dan menggali ide-ide cerdas yang mengakar, sehingga mampu membangun tradisi kritis dan ilmiah dalam rumah besar NU. Karena tak dapat dipungkiri, orang menjadi besar (pemimpin) karena salah satunya mampu menghadapi  kritik dan  siap dikritik. Begitu juga pengurus yang handal juga tak alergi dengan kritik.

Kritik menjadi bagian dari proses, seperti  kondisi rumah besar, dengan memiliki anak yang banyak dan dari anak tersebut ada yang sudah bekerja ada juga yang menjadi penggangguran.  Pemimpin rumah tangga selayaknya memiliki jiwa besar dan tidak pilih kasih. Anak yang bekerja dan tidak bekerja semua dirangkul, agar tetap saling menjaga dan bersatu dalam rumah besar. Sangat wajar dalam satu keluarga adanya saling mengkritik, namun semua hal tersebut dapat diambil hikmanya untuk tetap dalam rumah yang kokoh, bahagia dan menyenangkan bersama.

Tiga Landasan NU

Dalam dialog NU pojok kota Brebes, muncul diskusi tentang pondasi dasar yang harus dibahas dan difahami bersama, agar dialog seirama dengan maksud dan tujuan para pendiri NU sendiri. Pondasi tersebut juga menjadi pijakan dalam berorganisasi di NU, sehingga dialog NU pojok kota Brebes bisa memberikan sumbangsi pada kegiatan ke Nuan khususnya yang ada di Brebes.

Ada dasar aturan yang menjadi payung, pokok pemikiran  dan rambu-rambu perjalanannya roda organisasi, sebagaimana telah tertancapkan oleh para pendiri dan melarang dengan tegas  adanya   cerai berai, persatuan harus terus tetap dijaga. Sehingga menjadi kewajiban para perusnya untuk merawat dan mempromosikan aturan-aturan tersebut sebagai warisan organisasi dan tata nilai yang sangat mulia. Inilah warisan dasar berorganisasi yang sangat luhur, mulia dan luar biasa.

  1. Qonun Asasi

Qonun Asasi merupakan merupakan sumber moral, idiologi, pegangan atau pondasi  yang harus terjaga sebagai tatanan nilai sebuah jam’iyah Nahdlatul Ulama. Qonun Asasi ini juga  mengandung tuntunan bagaimana warga NU harus bersatu dan bersikap setiap menghadapi masalah.

Dalam Qonun Asasi yang dikemukaan oleh Hadaratusyaikh Mbah Hasyim As’ari adalah ajakan pada umat manusia untuk berada dalam rumah besar NU. Sebagaimana beliau tegaskan “Berbondong-bondonglah masuk jam’iyah yang diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Uama.” Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun dengan ikatan jiwa raga. Dan beliaupun menegaskan pada pengikutnya “Inilah jam’iyah yang lurus, bersifat memperbaiki dan menyantuni”.

Mbah Hasyim As’ari pun menegaskan tentang sanad keilmuanya yang dimilikinya adalah tersambung, ilmu yang ia dapatkan melalui guru-guru beliau hingga tersambung sapai pada Tabiin, Sahabat dan Nabi Muhammad SAW. dan beliau memberi peringatan kebawah kepada para penjaga dan pemilik rumah. Apabila ada seseorang  yang memasuki rumah yang umumnya lewat pintu, dan dia terbukti masuk rumah tidal lewat pintu maka dapat disebut pencuri.

  1. Mabadi Khaira Ummah

Mabadi’ Khaira Ummah merupakan langkah awal  yang dimiliki Jam’iyah Nahdlatul Ulama dalam proses pembentukan ummat terbaik (khaira ummah), dan menjadi gerakan yang nyata dalam pembentukan identitas diri dan karakter warga NU melalui upaya penanaman nilai-nilai luhur yang digali dari paham keagamaan NU untuk menuju terwujudnya umat yang ideal (seperti yang dicita-citakan). Ummat yang mampu melaksanakan amar ma;ruf nahi munkar dan  berakhlak mulia.

Mabadi khaira ummah juga menjadi gerakan pengembangan ekonomi, sebagai upaya NU agar berkembang secara mandiri. mengembangkan ekonomi rakyat, termasuk mengatur perdagangan luar negeri. Sebagimana diputuskan dalam Muktamar NU di Menes Banten 1938.

 Mabadi khaira ummat dibicarakan kembali pada Muktamar NU di Magelang 1939, sehingga  ditetapkanlah prinsip-prinsip pengembangan sosial dan ekonomi yang disebut “Mabadi Khaira Ummah ats-Tsalasah” (Trisila Mabadi).

Pertama, ash-shidqu (benar) tidak berdusta; sikap memegang prinsip-prinsp kejujuran, kebenaran, dan kesunguhan. Prilaku jujur dalam hal ini memiliki arti “Menyatunya kata, perbuatan dengan pikiran.” Apa yang diucapkan sama dengan yang ada dibatin. Tidak memutarbalikkan fakta dan meberikan informasi yang menyesatkan atau penyebaran informasi bohong (hoaks), jujur saat berpikir dan bertransaksi. Mau mengakui dan menerima pendapat lain yang lebih baik

Kedua, Al-amanah wal wafa bil ‘ahdi. (menepati janji), melaksanakan semua beban yang harus dilakukan terutama hal-hal yang sudah dijanjikan. Dapat dipercaya, setia, dan tepat pada janji, baik bersifat diniyah maupun ijtimaiyah. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk  menghindari  munculnya berapa sikap buruk seperti manipulasi dan berkhianat. Amanah ini dilandasi kepatuhan dan ketaatan pada Allah SWT.

Ketiga, At-ta’awun (tolong-menolong). Menjadi sendi utama dalam tata kehidupan bermasyarakat, manusia tidak dapat hidup sendiri dan lepaas tanpa bantuan pihak lain. Menggalang sikap setiakawanan, timbal balik, memberi dan menerima, gotong royong dalam kebaikan dan taqwa.  Oleh karena itu sikap ta’awun mendorong orang untuk bersikap kreatif agar memiliki sesuatu untuk disumbangkan pada yang lain untuk kepentingan bersama. Hal ini dapat dijadikan langkah untuk mengkonsolidasi masyarakat dan menggali persolan NU yang ada untuk dipecahkan bersama.

Adapun implementasi mabadi khaira ummah pada tahun  1940,  KH Machfud Shiddiq  melakukan  kunjungan ke Jepang untuk melakukan kerja sama dibidang ekonomi. Dilanjutkan pada Munas NU di Lampung 1992 mabadi khaira ummah ats-tsalatsah dikembangkan lagi menjadi mabadi khaira ummah al-khamsah (Pancasila Mabadi) dengan menambahkan prinsip ‘a’dalah (keadilan) dan istiqamah (konsistensi, keteguhan)

 Al-’Adalah. berarati bersikap obyektif, berperilaku proposional dan taat asas, yang menuntut setiap orang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, jauh dari pengaruh egoisme, emosi pribadi dan kepentingan pribadi. Distorsi (memutarbalikan fakta) akan menjerumuskan pada seseorang pada kesalahan dalam bertindak. Bersikap adil dan proporsional serta obyektif terhadap relasi sosial yang harus dipegang dala transaksi ekonomi sehingga akan berjalan dengan  lancar dan saling menguntungkan.

 Istiqamah,  teguh, jejeg, ajek dan konsisten. Tetap berpegang teguh dengan ketentuan Allah SWT dan Rasulnya serta tuntunan para salafus shalihin. Dan aturan main sesuai rencana yang sudah disepakati bersama. Kegiatan yang kesinambungan dan keterkaitan antara satu periode dengan periode berikutnya, sehingga kesemuanya  merupakan  kesatuan yang saling menopang seperti sebuah bangunan kokoh, ada pondasi, tembok dan atap. Konsep ini juga menjadi proses untuk maju dan tidak kenal henti dalam mencapai tujuan.

  1. Risalah Ahlissunnah wal Jamaah

Risalah Ahlissunnah wal Jamaah karya Hadratusyaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, menjadi pegangan bagi warga NU. Hal ini mengacu pata latarbelakang lahirnya NU sebagai  gerakan modernisme Islam di Indonesia. Dan bentuk usaha intelektual dalam mempertahankan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.

Munculnya berbagai gerakan dan aliran yang ada di Indonesia sehingga mengilhami lahirnya kitab Risalah Ahlissunnah wal Jamaah. Inilah kitab yang bicara tentang kondisi keagamaan (Islam) masyarakat Jawa, garis perjuangan ulama salaf, pentingnya berpegang teguh pada salah satu dari mazhab empat.  kewajiban bermazhab bagi orang yang tidak memiliki keahlian ijtihad.

Dalam risalah Ahlusunnah juga mengajarkan pada kaum Nahdiyin untuk berhati-hati dalam mengambil (belajar) agama dan ilmu. Bersikap hati-hati dari fitnahnya ahli bid’ah dan kaum munafiq dan para pemuka agama yang menyesatkan. Sehingga pada saat ini masih muncul kaum takfiri dan ahli bid’ah yang sebenarnya sudah diingatkan oleh Mbah Hasyim 96 tahun yag lalu.

Hadratussyekh menjelaskan dalam risalahnya tentang kelompok Ahlussunnah wal Jamaah sebagai satu-satunya kelompak yang selamat diakhirat nanti. Kitab ini sangat bermanfaat dan menjadi pegangan kaum nahdiyin untuk memahami ajaran agama, menilai, dan membeda mana ibadah dan mana tradisi, mana sunnah mana bid’ah, dan juga posisi keagamaan yang kuat dimiliki para ulama pesantren yang saat itu direpresentasikan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari

Catatan Dialog NU Pojok Kota Brebes

Ada beberapa yang penulis catat dalam dialog NU pojok kota Brebes, catatan ini sebagai gambaran singkat hasil dialog pada hari kamis – jumat 1-2 September pukul 20.00 – 02.00 WIB di rumah H. Asmui Brebes.

Kepekaan memahami pendapat orang NU yang tidak diakomodir dalam struktur kepengurusan. Satu sisi ia menjadi NU kultural,  ia tetap sebagai benteng dan  pembela NU. Tetapi pada sisi lain ia tidak berani memuncul identitas ke-NU-annya secara terang-terangan. Dan dapat dikatakan kalau berada bersama orang-orang NU, ia akan mengatakan bahwa dirinya adalah NU, namun ketika berada di luar NU ia akan mengatakan saya adalah islam nasionalis (netral) dan hal ini sudah mulai muncul ditengaah-tengah warga NU dan jumlah tidak sedikit. Bagi yang berada di non struktural dapat mengambil kiprahnya dimana saja, dan tidak perlu diceritakan tentang aktivitas yang dilakukannya. Biarlah tetap berkiprah walaupun tidak berada dalam structural di NU, baik ditingkat Ranting maupun Cabang.

Kepedulian terhadap NU, baik yang berada di struktural maupun kultural, dengan mengadakan dialog kumpul bersama orang NU, dapat menjadi bentuk kepedulian tersendiri terhadap NU. Dan menjadi salah satu sumber informasi dalam menggali identitas NU serta untuk mengkaji nilai-nilai ke-NU-an, yang dapat dikembangkan dan dimasyarakatkan dalam kaum nahdiyin.

Kaum Nahdiyin di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, perlu pengembangan perekonomian (Maisyah). Mencari penghidupan yang layak, sebagai manusia yang hidup dan memiliki kehidupan. Sistem yang dimiliki NU tidak.boleh dirusak, apapun gerakan NU di masyarakat  seharusnya tetap matching dengan landasan keorganisasian NU. Baik dalam tatanan perilaku dasar (basic prilaku), perkataan , aktivitas rutinitas maupun ibadah. Begitu juga para pemimpin NU tidak boleh melanggar AD ART organisasi, apalagi yang mau mencalonkan diri menjadi ketua maupun pengurus tidak boleh keluar dari rel yang digariskan oleh para pendiri.

NU yang riil adalah NU yag ada di masyarakat atau ranting. Ketika potret NU Ranting bagus, maka struktur atasnya yaitu Majilis Wakil Cabang (MWC), Pengurus Cabang (PC) akan bagus pula. Di kepengurusan NU janganlah ada diskriminisasi kedudukan, semuanya saling menyatu membantu dan melengkapi, bersama saling peduli terhadap NU dimanapun berada. Serta mampu memberi akses, kebijakan dan program untuk NU. Jangan ada orang NU yang menjadi pimpinan dibeberapa lembaga swasta maupun pemerintah, tidak mampu memberikan syafaat. Sehingga dikepemimpinanaya tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi  malu menjadi NU setelah jabatan dipegangnya.

 Dialog NU pojok kota Brebes, dapat menjadi nasehat untuk diri peserta yang disampaikan dari peserta lain terutama dari K.H. Miftakhus Syurur yang selalu memberikan pencerahan pada setiap perkataannya yang penuh makna dan mudah dicerna. Beliaupun mengatakan walaupun nasehat tersebut tidak langsung dipakai. Minimal ada sebuah usaha untuk perbaikan bersama.

Memiliki pemimpin yang handal adalah menjadi hajat bersama. Tidak mudah terbaca gerak langkanya, tercatat jelas potret perjalanan dalam jenjang aktivitas di NU. Nilai-nilai sosial dan kedermawaan yang pernah dilakukan. Jenjang pendidikan umum maupun pesantren terekam sangat jelas dan tidak ketinggalan pula kemapanan ekonomi pimpinan yang jelas-jelas akan menghidupi NU bukan hidup di NU. Dalam bahasa jawa pemimpin sebagai ujung tombak dan ujung tombok. Seorang pemimpin mampu menjual ide-ide produktifnya, dapat menjadi konsultan umat, bukan plagiatisme apalagi pemimpin titipan (pesanan sponsor). Ide dan konsep peminpin dapat menjadi berkah tersendiri bukan insting mematikan yang digunakan. Sosok pemimpin yang berhasil, dapat dikatakan karena berawal dari banyaknya masalah. Bukan kehadiran pemimpin yang menciptakan masalah, sehingga menjadi organisasi sebagai masalah.

Cita-cita memiliki pimpinan NU di tingkat cabang dan pengurus yang visioner, mampu membaca persoalan NU kedepan, pemimpin yang siap hadir ditengah-tengah masalah umat, pemimpin yang tidak  minder, dan mampu mengajak ummatnya untuk berpikir keduniaan, agama dan sosial masyarakat tidak menggunakan logika taklid dan mengganggap semua persolan yang ada ditengah masyrakat dianggap  sudah selesai, tanpa melihat dan menganalisa terlebih dahulu. Siapapun pimpinan yang menggawangi NU Brebes, haruslah diterima secara “legowo” karena itulah yang terbaik untuk semua.

Sepertinya ada yang hilang dari NU, salah satunya tradisi-tradisi yang ada di kaum nahdiyin dan kader-kader NU yang belum terakomodir. Dialog NU pojok kota Brebes ini dapat menjadi penghimpun kembali tradis yang hilang dan kader yang belum pulang kerumah NU. Mengajak berfikir dari orang NU untuk NU, membangun konsep perekonomian untuk warga NU, jangan sampai warga nahdiyin terbawa arus gerakan radikal yang semakin marak dan sulit terbendung.

Jadilah orang NU yang progresif, jangan katakan tidak untuk NU apalagi menyesal dan keluar dari NU. Teruslah memberikan sumbangsi pada NU. Dialog ini dapat menjadi gerakan menjaring matahari dan milik bersama untuk saling mengingatkan sesama warga NU dan kalau bisa memberi solusi bersama-sama untuk kemajuan NU.

Keikutsertaan dalam dialog inipun mudah-mudahan dapat menjadi pertanggungjawaban dihadapan Malaikat, sebagai bentuk partisipasi pemikiran keagamaan dan akidah Ahlussunah. Menjadi shodakoh jariyah fikriyah sebagai pertimbangan dan solusi pencerahan keummatan. Wallahu’alam Bishowab.

 Lukman Nur Hakim, S.Psi. M.Pd

Dialog NU Pojok Kota Brebes, Kamis 1 September 2022

Artikulli paraprakKapolri Minta Masyarakat Lapor Jika Ada Polisi Bergaya Hidup Mewah
Artikulli tjetërTerlibat Bisnis Haram di Hiburan Malam, Kasat Narkoba Polres Karawang Dipecat

Terima kasih atas Koemntar Anda. Ikuti terus kontens portal ini.