Beranda Daerah Pemkot Bogor Aktifasi Pusat Isolasi OTG

Pemkot Bogor Aktifasi Pusat Isolasi OTG

19
0

Modusinvestigasi.Online, Bogor – Pemerintah Kota Bogor tengah fokus mengaktifasi kembali pusat isolasi untuk menampung pasien Covid 19 dengan status orang tanpa gejala (OTG).

Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan salah satu yang akan diaktivasi adalah pusat isolasi di Asrama 5A IPB Dramaga yang memiliki kapasitas 182 tempat tidur.

“Kita juga mempersiapkan reaktivasi BNN Lido,” ujar Wakil Wali Kota Dedie A. Rachim kepada wartawan, Senin (05/07/2021).

Dedie menegaskan, saat ini permasalahan yang dialami Kota Bogor bukan hanya masalah oksigen, melainkan permasalahan tenaga kesehatan (nakes).

“Kalau masalah peralatan kita siap. Sekarang itu masalahnya di SDM yang langka,” katanya.

Rencananya, sambung Dedie, Pemkot Bogor akan perekrutan lebih dari 200 nakes.

“Rencananya segitu, tapi sekarang baru ada 20. Jumlah 200 itu untuk kebutuhan isolasi, di RSUD juga tinggi,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD, dr Ilham Chaidir mengatakan, dalam mensiasati kekurangan nakes, pihaknya mengurangi jumlah tempat tidur rawat inap pasien non covid menjadi 56. Sebab, RSUD menargetkan menaikan kapasita rawat inap covid sebanyak 341.

“Sekarang kemampuan kita di 242, nanti naik bertahap untuk mengejar isoman yang memburuk. Jadi saya pikir itu permasalahannya yang dihadapi RSUD,” ucapnya.

Jumlah nakes yang saat ini ada, kata Ilham, jauh dari kata ideal. Sebab, saat ini satu perawat menangani 15 pasien. “Idealnya satu perawat menangani 6 pasien. Jadi kebayang kan sekarang capeknya seperti apa,” ungkapnya.

Atas dasar itu, ia meminta masyarakat yang terpapar, namun tak bergejala atau ringan agar isoman di rumah terlebih dahulu dengan mengedepankan pedoman isoman. “Sebab, semakin panik keadaannya semakin memburuk,” katanya.

Kemudian, pasien isoman juga lebih baik memakai obat-obatan yang sederhana. “Kalau bisa punya alat oximetri untuk mengukur saturasi oksigen dan berkoordinasi dengan puskesmas,” katanya.

Sebab, sambung dia, selama ini pasien isoman yang datang ke RS 70 persen, saturasi oksigennya sudah buruk.

“Inilah yang menyebabkan tingginya angka kematian,” pungkasnya.

(Veronica/MI)

Artikel sebelumyaLuhut Minta Agar Pekerja dari Bogor Tak ke Jakarta
Artikel berikutnyaKomisi II DPRD Jabar Desak Bulog Percepat Penyerapan Harga Gabah

Terima kasih atas Koemntar Anda. Ikuti terus kontens portal ini.